Kupu-kupu itu bersayap kuning, terbang ke sana kemari di tanah samping.
Coba lihat, ia sedang mencari sesuatu, di balik daun bunga sepatu. O,
ternyata benar, ia sedang menitipkan telurnya. Nanti telur-telur itu
jadi ulat. Ulat-ulat itu merayap dari daun ke daun. Memangsa daun-daun
itu, nyaem nyaem nyaem, ia besar, gemuk, lalu masuk ke kepompong. Nah
sudah. Coba lihat, dari satu ujung lubang kepompong, lepaslah seekor
kupu-kupu, warnanya kuning, seperti induknya.
Aku mengimajikan
proses itu. Sebuah proses alami. Alam telah menyediakan segala
sesuatunya, agar semuanya dapat berproses, tentu secara alami pula.
Kupu-kupu kuning tadi telah pergi, ke halaman rumah tetangga. Di samping
rumah ada sirsak, pisang, mangga, dan pepaya. Ada juga bluntas dan
gambas. Di bawah pohon dan perdu itu, sedikit menghampar rumput hijau,
halus, enak di kaki. Di halaman depan, sama, ada rumput hijau. Di
atasnya, ada pepaya, alamanda, cemara pipih, dan melati. Tanaman itu
mengisi hari-hariku, ya di tengah-tengah alam semesta yang besar dan
"tenang" ini, aku ditimpa keraguan, kebimbangan.
"Hesti, aku
sudah mempertaruhkan hidupku, tapi jalan hidup ternyata lain. Aku tak
sanggup lagi mampir di rumah kita, yang konon bertabur bintang berjuta.
Berbulan bundar, persis harapanku. Tapi bulan dan bintang di rumah kita
adalah milikmu. Aku ditakdirkan tidak memilikinya."
Itu ucapan
Sapto. Lelaki itu kemudian tak lagi kembali. Sapto telah pergi, lenyap
ditelan kebiruan gunung. Sapto mengembara dari gunung ke gunung yang
konon wilayah warisan nenek moyangnya.
"Ya, Sapto, bila itu jalan
hidupmu, pilihanmu, setialah pada janjimu, pada dirimu. Aku tak kuasa.
Jalan hidup kita memang beda. Memang telah kuserahkan diriku padamu,
tapi tampaknya tak dapat penuh. Kuserahkan diriku hanya separuh, dan kau
menerimanya juga dengan separuh dirimu. Kita sama-sama mengerti. Dan
akhirnya memaklumi. Di tengah alam semesta yang besar ini, aku akhirnya
sendiri. Bapak ibuku sudah pergi. Adik satu-satuku sudah dibawa suami.
Di rumah ini, bagai seorang paranormal, aku merajut masa depan yang
gambar-gambarnya samar-samar."
Tak kusadari air mata menetes, tak
banyak, hanya satu dua. Tapi itu sudah cukup. Keterharuanku pada jalan
hidupku membuatku mengerti, bahwa setiap orang akan digiring kepada
jalan hidupnya masing-masing. Ada yang ikhlas menerima, ada yang
memberontakinya.
Lelaki itu dulu kutemui di bangsal sebuah gedung
teater. Saat itu ada latihan drama. Saat itu aku baru lulus sarjana
akuntansi. Meskipun aku suka hitung-menghitung, aku juga suka nonton
drama. Bahkan latihan sebelum main, kutonton juga. Itu seperti kita
kalau makan kue Hari Raya yang akan dipanaskan dalam van. Rasanya sudah
enak, dan memang sudah bisa dinikmati. Dalam kisah drama yang kutonton,
ada bagian peristiwa yang menampilkan sisi kehidupan seorang paranormal.
Dikisahkan, paranormal pamit pada istrinya untuk bertapa di sebuah
lereng gunung di selatan kota. Tapi pertapanya gagal karena tergoda
seorang wanita. Sang pertapa kemudian kembali lagi menjadi orang biasa.
Entah dari mana Sapto tahu ada latihan drama di Gedung Pemuda pusat kota
itu. Sapto sendiri hanya tamat SMA. Ia memilih belajar sendiri dari
hal-hal yang dia sukai, dan sangat antusias dengan astronomi, astrologi,
serta ekonomi makro. Selain itu, ia menggandrungi puisi dan pijat
refleksi. Mungkin background inilah yang mendorongnya datang ke Gedung
Pemuda.
Waktu itu, entah bagaimana, aku dan Sapto terlibat
diskusi perihal paranormal yang tergoda tadi. Dari diskusi itulah,
perkenalan berlanjut. Sapto ternyata orang yang sangat menyayangi
tubuhnya. Setelah pernikahan, ia pelit berhubungan seks. Alasannya,
tubuh adalah kuil Tuhan, rumah ruh berdomisili. Dan jika ruh menempati
sebuah tubuh, itu merupakan perjuangan yang sangat berat, sungguh berat.
Sang ruh harus bernego dulu dengan para malaikat pengurus kelahiran.
Karena begitu banyak ruh yang ingin atau harus lahir di bumi, maka
negosiasi sungguh alot. Dihitung dulu talenta, kemungkinan-kemungkinan
prestasi, fleksibilitas dengan cuaca tempat tubuh dilahirkan, atau
komplikasi-komplikasi yang mungkin muncul dengan keluarga inti, keluarga
besar, suku, dan masyarakat luas. Melihat kesulitan negosiasi, dan
kecermatan seleksi di dunia sana, Sapto sangat bersyukur telah bisa
lahir ke bumi. Karena itu, sekali lagi, Sapto sangat menghormati tubuh.
Tubuh tak boleh semena-mena dikorbankan demi sensasi seks yang tak
kunjung habis.
Hernowo? Ya, dialah itu, Hernowo. Lelaki itu
adalah suami keduaku. Aku bertemu dengannya, lagi-lagi, ketika ada acara
latihan drama. Waktu itu pagi nan dingin, di pinggirian kota, sebuah
kelompok teater sedang berlatih pernapasan. Aku diajak seorang teman,
aku ikut namun sekadar menonton; sambil baca-baca koran pagi, kudengar
mereka teriak-teriak. Mereka disadarkan oleh Hernowo: baik ketika udara
masuk atau keluar, yang bergerak hanyalah Tuhan. Dengan sugesti itu,
mereka tak hanya diingatkan oleh pentingnya udara, namun juga oleh
pentingnya "Tuhan".
Hernowo adalah seorang suami yang nafsu
seksnya kuat. Mungkin dampak dari latihan pernapasan digabung dengan
bawaan dari sono-nya. Tak seperti Sapto yang kikir seks, Hernowo boros.
Sehingga sering aku dibikin kewalahan.
"Hesti, kecerdasanku
adalah maksimal. Namun tampaknya aku kewalahan meladenimu diskusi.
Semangat hidupku terlalu besar, sayang kurang diimbangi daya
intelektual." Demikian pengakuan Hernowo suatu malam, setelah melakukan
hubungan suami istri entah yang ke berapa ribu kali.
"Tapi kau
pelaku yang baik, man of action. Kamu mampu menghimpun orang-orang,
menggerakkan mereka, meski gerakan mereka di atas panggung. Aku lega
dipertemukan Tuhan bersuamikan dirimu." Demikian hiburku pada malam yang
lain sambil melap-lap tubuhnya yang penuh keringat. Kusuapi dia dengan
STMJ khas diriku seperti yang diminatinya.
Sebenarnya aku sudah
mulai bisa tinggal di dalam hatinya. Dia juga sangat kerasan hidup di
hatiku. Tapi sayang seribu sayang, melalui cerita seorang teman, dan
juga aku pernah tahu sendiri, Hernowo masih punya waktu berpacaran
dengan salah satu anak buah teaternya. Kerinduanku pada keindahan
romantisme perkawinan pupus sudah. Mungkin karena dia menganggapku janda
yang kesetiaannya sudah terkoyak.
"Sudahlah, sudah. Kau bisa
bayangkan sendiri, di sudut kamarmu yang remang-remang, bahwa akhirnya
aku bercerai dengan Hernowo. Hernowo itu terlalu alamiah. Termasuk dalam
hal bercinta. Tak apalah. Biarlah semua mengalir, Pantha Rei. Aku
mengalir. Sapto mengalir. Hernowo juga mengalir."
Kembali mataku
menangkap kepak kupu-kupu kuning itu dengan kesepianku yang lengkap. Aku
tak mau lagi jadi ulat. Aku ingin jadi kupu-kupu. Ulat merayap dari
daun ke daun. Kupu-kupu itu terbang dari bunga ke bunga, taman ke taman.
Aku ingin terbang. Dan ini yang penting, aku tak ingin memakai dua
sayap yang di situ ada Sapto dan Hernowo. Dulu aku terbang dengan sayap
Ibu dan Bapakku. Kemudian aku terbang dengan sayap Sapto dan Hernowo.
Aku ingin menciptakan sayap sendiri, sayap khas Hesti. Mungkin bahan
bakunya dari Ibu, Bapak, Sapto, dan Hernowo, atau yang lain.
Dalam
kesepianku, kini, aku menekuri diriku yang sibuk merajut sayap. Tak
apa, mumpung angkasa masih menyediakanku ruang. Diriku belum sama sekali
hampa. Lingkunganku masih tertawa dan terbuka. Kotaku, meski tetap
angkuh, toh masih mau menyapa.
Kulihat diriku menekuri diriku. Di
sela-sela berbagai daunan berembun, bagai peri, aku mulai melesat dari
daun ke daun. Dan kulihat dari pohon ke pohon. Sedang di atas angkasa
membuka mulutnya yang tak bertepi, dibanjiri sinar mentari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar